Sabtu, 26 Februari 2011

PROFIL SEKOLAH

Nama Sekolah                          :  MI Al-Hidayah Ibun
Alamat                                   :  Jl. Sangkan Desa Laksana Kecamatan Ibun
   Kabupaten Bandung 40384  
1.     Nama dan Alamat Yayasan Penyelenggara Sekolah :
  YPPI Al-Hidayah, Kp. Sangkan Rt. 02 Rw. 02 Ds. Laksana Kec. Ibun Kab. Bandung
2.     NSM                                :  111232040058
3.     Jenjang Akreditasi              :  Terakreditasi  C
4.     Tahun Didirikan                  :  1983
5.     Tahun Beroprasi                 :  1983
6.     Kepemilikan Tanah              :  Milik Yayasan
  a. Status Tanah                 :  Wakaf
  b. Luas Tanah                    :  1.362 M2
7.     Satus Bangunan                 :  Milik Yayasan
8.     Data Siswa Dalam 3 (tiga) Tahun Terakhir :
Tahun
Kelas
2009/2010
2010/2011
2011/2012
L
P
Jml
L
P
Jml
L
P
Jml
I
29
18
47
32
23
55
28
27
55
II
23
21
44
21
14
35
30
21
51
III
14
12
26
22
21
43
23
14
37
IV
12
30
42
13
13
26
21
21
42
V
11
27
38
12
29
41
13
12
25
VI
11
19
30
10
25
35
12
29
41
Jumlah


227


235


251
Jumlah Rombel
6
6
6

9.     Data Ruang Kelas :
a.  Kelas I     1  Ruang     Kondisi   Rusak
b.  Kelas II    1  Ruang     Kondisi   Rusak
c.  Kelas III   1  Ruang     Kondisi   Baik
d.  Kelas IV    1  Ruang    Kondisi   Baik
e.  Kelas V     1  Ruang    Kondisi   Baik
f.  Kelas VI    1  Ruang     Kondisi   Baik
10.  Jumlah Ruang Belajar :
a.  Kelas I     1  Kelas
b.  Kelas II    1  Kelas
c.  Kelas III   1  Kelas
d.  Kelas IV    1  Kelas
e.  Kelas V     1  Kelas
f.  Kelas VI    1  Kelas
11.  Data Guru Tahun Pelajaran 2011/2012
a. Jumlah Guru Keseluruhan                     :  12   Orang
b. Guru Tetap Yayasan                           :  8     Orang
c. Guru Tidak Tetap                               :  -      Orang
d. Guru PNS Dipekerjakan (DPK)               :  3     Orang
e. Guru Bantu/Sukwan                            :  1     Orang
12.  Pelaksanaan KBM                                  :  Pagi
13.  Sumber Dana Operasional dan Perawatan  :  BOS / Lain-lain

Rabu, 23 Februari 2011

TENTANG MI AL-HIDAYAH IBUN

SEKILAS MI Al-Hidayah Ibun
Adalah sekolah yang berlandaskan nilai-nilai yang universal. sejak awal berdiri tahun 1983 MI Al-Hidayah Ibun dirancang dan dikembangkan berdasarkan sistem pendidikan yang integral dan komprehensif dalam kerangka Islam. Dengan harapan dapat menjadi Madrasah masa depan yang memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif dalam sistem, proses, dan hasil pendidikannya. 

KURIKULUM MI Al-Hidayah Ibun
Kurikulum yang dikembangkan mengacu kepada kurikulum Kementerian Agama dan Dinas Pendidikan Nasional sebagai materi minimal yang diintegrasikan ke dalam nilai-nilai Islam. Selain itu, diberikan pula kurikulum khusus sebagai nilai tambah atau keunggulan MI Al-Hidayah Ibun, yaitu :
1.     Pendidikan Al-Qur’an
·         Membaca Al-Qur’an dengan menggunakan metode murottal, tilawah, serta pemahaman makna (tarjamah lafzhiyyah) dan tafsir.
·         Menulis (tahsinul khot), yang terdiri menulis lepas dan menulis sambung, imla, khot dan kaligrafi.
·         Tahfizh yang terdiri menghafal Al-Qur’an, hadits, dan do’a.
2.     Pendidikan Agama
Pendidikan agama terdiri dari Aqidah Akhlaq, Sejarah dan Kebudayaan Islam, Al-Qur’an Hadits, dan Fiqih serta Bahasa Arab yang dipadukan dalam Pendidikan Agama Islam.

PEMBELAJARAN MI Al-Hidayah Ibun
Kegiatan belajar mengajar di MI Al-Hidayah Ibun memebrikan kesempatan peran aktif dan partisipasi siswa, dengan pendekatan aktive learning yang mengarahkan siswa untuk lebih aktif berpendapat, berkreasi dan terlibat dalam berbagai materi pelajaran dan informasi serta kegiatan. Juga peran siswa dikondisikan dalam nilai dan sikap melalui pendekatan keteladanan yang Islami.

STAFF PENGAJAR MI Al-Hidayah Ibun
Berlatar belakang pendidikan dari berbagai disiplin ilmu, berkarakter kuat dalam mendidik dan mengasuh siswa, selalu terkondisikan untuk mengembangkan kuaitas diri dan wawasan.
Pengajar di MI Al-Hidayah Ibun diantaranya :
1.  Rukma Abdurahman, S.Pd.I
2.  Juju Juhaenah, S.Pd.I
3.  Yayah Juhariah, S.Pd.I
4.  Dadan Suhandana, S.Pd.I
5.  Ojah Jaojah, S.Pd.I
6.  Ningsih, S.Pd.I
7.  Laela Jamilah
8.  Sutandi, S.Pd.I
9.  Nani Suryani, S.Ag
10.  Endang Mohamad Tawekal, S.Pd.I
11.  Priyatna, A.Ma
12.  Yani Rosmiati

KESISWAAN MI Al-Hidayah Ibun
Ekstrakurikuler : bertujuan untuk menumbuh kembangkan bakat dan potensi positif sehingga dapat tumbuh dengan terarah dan mencapai tujuan optimal. Berbagai kegiatan keagamaan seperti Baca Tulis Al-Qur’an, salat berjamaah, kultum. Keterampilan yang dibina adalah komputer, kepramukaan, kesenian.
Peringatan Hari Besar Islam/Nasional : bertujuan untuk memberikan informasi dan pemahaman tentang sejarah dan peristiwa serta memaknai peristiwa dengan kegiatan yang relevan.
Ramadhan Ceria dan Mabit : bertujuan untuk menggali pengetahuan yang lebih luas dan spesifik, memberikan bekal dengan pengalaman spiritual melalui kegiatan ilmiah dan ibadah.



Senin, 21 Februari 2011

KEWIBAWAAN SEORANG GURU

Oleh : Dadan Suhandana, S.Pd.I

M
enjelang era afta, kepemimpinan yang baik sangat diperlukan. untuk itu diperlukan seorang pemimpin yang mampu melaksanakan roda kepemimpinannya yang baik. Dalam hal ini tuntutan yang paling mendasar dan harus dimiliki oleh seorang pemimpin adalah “kewibawaan”.
Kewibawaan menurut W.J.S. Purwadarmita dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia adalah kekuasaan dan hak untuk memberi perintah. Seorang pemimpin dikatakan memiliki kewibawaan, yaitu jika apa yang menjadi perintah, anjuran, atau nasehat semua diakui, diterima dan ditaati secara sadar tanpa merasa terpaksa untuk dilaksanakan oleh orang yang menerimanya.
Dalam dunia pendidikan khususnya lembaga sekolah, guru dapat dikatakan seorang pemimpin. Oleh karena itu kewibawaan harus dimiliki dan mutlak diperlukan untuk melaksanakan tugas sebagai seorang pengajar dan pendidik. Jika kewibawaan telah dimiliki maka guru dapat memberikan perintah dan nasehatnya kepada siswa tanpa merasa terpaksa.
Untuk memiliki kewibawaan bagi seorang guru banyak sekali tuntutan sikap yang akan mempengaruhi jiwa dan perkembangan anaka didiknya. Sikap yang harus dimiliki untuk memperoleh kewibawaan bagi seorang guru diantaranya sikap tanggung jawab, disiplin, bijaksana, demokratis, kreatif, inovatif, kasih saying,keteladana, kesabaran dan masih banyak lagi.
Akan tetapi jika tuntutan-tuntutan sikap tersebut tidak dilakukan atau kurang diperhatikan misalnya, mengobrol terlalu santai dengan anak didik, bergurau sesama guru kelewatan batas, merokok waktu mengajar atau didepan kelas, kurang disiplin terhadap waktu, maka dalam kegiatan tersebut sebenarnya telah terjadi pengikisan dan hilangnya kewibawaan pada guru tersebut.
Hilangnya kewibawaan akan mendorong tampilnya keberanian anak didik untuk “memberontak” yang sebelumnya berada dibawah kewibawaan guru. Sehingga kebijakan sekolah, tata nilai dan termasuk perintah guru tidak akan dipatuhinya.
Pada tatanan lembaga pendidikan tingkat dasar yang ada di Bandung, ungkapan keberanian anak didik terhadap guru dan dalam menentang kebijakan sekolah lebih demonstratif. Hal ini didorong oleh perkembangan anak didik secara fisik, mental, emosi, dan sikap ingin mengaktualisasikan diri yang tinggi serta pengaruh negatiflingkungan disamping guru sendiri yang telah hilang kewibawaannya.
Jika kondisi yang kondusif ini terjadi dan dibiarkan berlarut-larut maka lembaga sekolah tersebut dapat dikatakan telah gagal dalam melaksanakan peran dan fungsinya dalam menunjang pembangunan bangsa dan negara. Akibatnya akan hilang kepercayaan masyarakat pada lembaga sekolah tersebut. Jadi agar kondisi tersebut maka langkah pertama haruslah mulai dari seorang guru sebagai ujung tombak dalam dunia pendidikan. Dengan kata lain guru-guru haruslah menjaga kewibawaan supaya jangan sampai hilang. Untuk itu sebagai tanaman kewibawaan seorang guru haruslah selalu disiram dan diberi pupuk agar tumbuh sehat. Hal ini dimaksud untuk mendukung profesinya sebagai seorang pendidik. Sebab, ditangan gurulah kejayaan bangsa dan negara akan terwujud. Ini logis karena tanpa ada guru maka proses mencerdaskan bangsa tidak akan berjalan seperti yang dicita-citakan oleh negara sebagai mana tercantum dalam UUD 1945***

Minggu, 20 Februari 2011

PROSES DAN TAHAPAN BELAJAR

PROSES DAN TAHAPAN BELAJAR
1. Definisi Proses Belajar
Proses adalah kata yang berasal dari bahasa latin “processus” yang berarti “berjalan ke depan”. Kata ini mempunyai konotasi urutan langkah atau kemajuan yang mengarah pada suatu sasaran atau tujuan. Menurut Chaplin (1972), proses vadalah: Any change in any object or organism, particulary a behaioral or psychological change (Proses adalah suatu perubahan khususnya yang menyangkut perubahan tingkah laku atau perubahan kejiwaan). Dalam psikologi belajar, proses berarti cara-cara atau langkah-langkah khusus yang dengannya beberapa perubahan ditimbulkan hingga tercapainya hasil-hasil tertentu (Reber, 1988).
Jika kita perhatikan ungkapan any change in any object or organism dalam definisi Chaplin di atas dan kata-kata “cara-cara atau langkah-langkah” (manners or operations) dalam definisi Reber tadi, istilah “tahapan perubahan” dapat kita pakai sebagai padanan kata proses. Jadi, proses belajar dapat diartikan sebagai tahapan perubahan perilaku kognitif, afektif, dan psikomotor yang terjadi dalam diri siswa. Perubahan tersebut bersifat positif alam arti berorientasi ke arah yang lebih maju daripada keasaan sebelumnya.
2. Tahap-tahap Dalam Proses Belajar
a. Menurut Jerome S. Bruner
Karena belajar itu merupakan aktivitas yang berproses, sudah tentu didalamnya terjadi perubahan-perubahan yang bertahap. Perubahan-perubahan tersebut timbul melalui tahap-tahap yang antara satu dengan lainnya bertalian secara berurutan dan fungsional. Menurut Burner, salah seorang penentang teori S-R Bond yang terbilang vokal (Barlow, 1985), dalam proses pembelajaran siswa menempuh tiga episode/ tahap, yaitu: 1) tahap informasi (tahap penerimaan materi); 2) tahap transformasi (tahap pengubahan materi); 3) tahap evaluasi (tahap penialain meteri)
Dalam tahap informasi, seorang siswa yang sedang belajar memperoleh sejumlah keterangan mengenai materi yang sedang dipelajari. Di antara informasi yang diperoleh itu ada yang sama sekali baru dan berdiri sendiri, ada pula yang berfungsi menambah, memperhalus, dan memperdalam pengeahuan yang sebelumnya telah dimiliki. Dalam tahap transformasi, informasi yang telah diperoleh itu dianalisis, diubah, atau ditransformasikan menjadi bentuk yang abstrak atau konseptual supaya kelak pada gilirannya dapat dimanfaatkan bagi hal-hal yang lebih luas. Bagi siswa pemula, tahap ini akan berlangsung sulit apabila tidak disertai dengan bimbingan anda selaku guru yang diharapkan kompeten dalam mentransfer strategi kognitif yang tepat untuk melakukan pembelajaran tertentu. Dalam tahap evaluasi, seorang siswa menilai sendiri sampai sejauh mana informasi yang telah ditransfornasikan tadi dapat dimanfaatkan untuk memahami gejala atau memecahkan masalah yang dihadapi. Tak ada penjelasan rinci mengenai sara evaluasi ini, tetapi agaknya analogdengan peristiwa retrieval untuk merespons lngkungan yang sedang dihadapi.
b. Menurut Arno F Wittig
Menurut Wittig (1981) dalam bukunya Psychology of learning, setiap proses belajar selalu berlangsung dalam tiga tahapan yaitu: 1) acquisition (tahap perolehan/penerimaan informasi); 2) storage (tahap penyimpanan informasi); 3) retrieval (tahap mendapatkan kembali informasi) Pada tingkatan acquisition seorang siswa mulai menerima informasi sebagai stimulus dan melakukan respons terhadapnya, sehingga menimbulkan pemahaman dan perilaku baru. Pada tahap ini terjadi pila asimilasi antara pemahaman dengan perilaku baru dalam keseluruhan perilakunya. Proses acquisition dalam belajar merupakan tahap paling mendasar. Kegagalan dalam tahap ini akan mengakibatkan kegagalan pada tahap-tahap berikutnya. Pada tingkatan storage seorang siswa secara otomatis akan mengalami proses penyimpanan pemahaman dan perilaku baru yang ia proleh ketika menjalani proses acquitision. Peristiwa ini sudah tentu melibatkan fungsi short term dan long term memori. Pada tingkatan retrieval seorang siwa akan mengaktifkan kembai fungsi-fungsi sistem memorinya, misalnya ketika ia menjawab pertanyaan atau memecahkan masalah. Proses retrieval pada dasarnya adalah upaya atau peristiwa mental dalam mengungkapkan dan memproduksi kembali apa-apa yang tersimpan dalam memori berupa informasi, simbol, pemahaman, dan perilaku tertentu sebagai respons atau stimulus yang sedang dihadapi.